Blog EntryBertjerita Bandoeng Lewat MoesikApr 29, '08 1:18 AM
for everyone
Tribun Jabar, Minggu , 27 April 2008 , 00:07:00 wib
Ricky Reynald Yulman

PERAHU dilarungkan ke Sungai Ciliwung. Dayung dikayuh perlahan. Perahu melaju menembus malam yang diterangi sinar purnama. Seorang pria, kekasihnya, dan rembulan. Mulailah sang pria melantunkan tembang-tembang cinta dengan iringan ukulele.

MUDA-mudi Kota Bandung, tak mengalami saat-saat seperti itu. Masa yang sama, untuk bersenang-senang mereka lebih  memilih datang ke gedung pertunjukan seperti Sociteit Concordia (kini Gedung Merdeka), lobi Grand Preanger Hotel, atau Hotel Savoy Homman yang terletak di Jalan Asia Afrika. Di tempat-tempat inilah mereka menikmati musik sambil makan malam ala Eropa.


Namun, sebagian muda-mudi Kota Bandung yang tak punya kesempatan datang ke gedung pertunjukan, biasanya cukup mendengar lagu-lagu romantis yang disiarkan melalui radio NIROM milik Belanda atau VORL milik Pribumi.


"Begitu kira-kira cara orang Batavia dan Bandung zaman dulu, menikmati keindahan musik. Kebanyakan lagu-lagu yang mereka nikmati berirama keroncong asli atau beberapa jenis musik Portugis atau Eropa," ungkap penulis sejarah musik dan kolektor musik, Harjadi Suadi.


Pada acara diskusi Bertjerita Bandoeng lewat Moesik yang digelar komunitas pecinta sejarah Klab Aleut di Bloemen Cafe-Resto, Jalan Boscha, Rabu (23/4) malam, Harjadi juga menunjukkan slide, cuplikan film bisu, dan memutarkan beberapa koleksi lagu yang populer tahun 1900 hingga 1940-an.


Dari pengeras suara terdengar tembang Daar bij die Molen (dekat kincir angin) dinyanyikan musisi keroncong Indonesia, Miss Netty. Lagu menceritakan senangnya muda-mudi Belanda berpacaran di dekat kincir angin, sejenak membuat 60-an peserta diskusi larut dan tersenyum.


Pria 69 tahun yang pernah mengajar di FSDR ITB ini mengisahkan, di masa itu banyak hati wanita luluh dan akhirnya jatuh hati kepada para pria seniman keroncong karena lagu-lagu romantis yang mereka bawakan. Dampaknya para orangtua mulai bersikap protektif terhadap anak-anak gadis mereka.


"Istilah buaya keroncong diperkirakan mulai dipakai saat itu. Sebab ada seniman keroncong tertentu menggunakan kemampuan mereka buat memikat hati banyak perempuan. Para orangtua mengambil tindakan tegas dengan mengatakan anak gadisnya sudah dipingit orang," ungkap Harjadi sambil tersenyum.


Harjadi yang kini memiliki sekitar 1.500 koleksi lagu-lagu lama juga memutar beberapa lagu terkait Kota Bandung. Menurutnya para pencipta lagu banyak terinspirasi keindahan alam Parisj van Java serta keramah tamahan masyarakatnya. Di antara lagu terkait Bandung, yaitu Ole-ole Bandung, Kerontjong Bandoeng, dan Halo Bandoeng versi asli Willy Derby yang dirilis tahun 1923.


Lagu Halo Bandoeng dibuat ketika pertama kali warga di sini bisa menggunakan fasilitas telepon. Saat itu telepon menjadi media komunikasi eksklusif. "Melalui lagu ini Willy Derby menggambarkan berbagai perasaan orang-orang yang menelepon sanak saudara atau kekasih di negara lain. Baik rasa gembira, sedih, kecewa, dan sebagainya," terang Harjadi.


Berbeda dengan diskusi tentang sejarah kebanyakan, acara Bertjerita Bandoeng Lewat Moesik yang dikemas dalam suasana santai selama tiga jam, mampu membuat peserta tetap duduk di tempat masing-masing.


Bahkan sepanjang diskusi berlangsung, para peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dosen, pemerhati budaya, ibu rumah tangga, hingga wartawan terus berdatangan hingga sebagian mereka terpaksa berdiri.


"Awalnya kita hanya targetkan 35 peserta. Tapi yang datang ternyata lebih banyak dari perkiraan awal. Mereka juga terlihat antusias berbagi cerita atau bertanya kepada narasumber," jelas Windarti Krisdiana (22) koordinator acara ini. (ricky reynald yulman)


Harjadi : "Benda-Benda Itu Begitu Mudah Datang"
HARJADI
Suadi menggunakan separuh usianya untuk mengoleksi piringan hitam lagu-lagu lama, film, slide, cuplikan film bisu, serta media dokumentasi lain. Terutama yang diproduksi dan diterbitkan sekitar tahun 1900 hingga 1940-an.


Kini di rumahnya di Jalan H Machfud kawasan Kiaracondong, terdapat sekitar 1.500 koleksi yang masih tertata rapi dalam rak khusus. Barang-barang dokumentasi itu diperoleh Harjadi dari berbagai sumber.


"Ajaib. Ketika saya ingin mengoleksi suatu benda, ternyata saya bisa mendapatkan dengan cara yang tak terduga. Benda-benda itu begitu mudah datang. Bisa jadi waktu saya pergi ke Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Cirebon, dan tempat lain. Ada juga barang-barang dari kawasan Cihapit Bandung," ungkap Harjadi.


Beberapa kali, penulis sejarah musik ini memperoleh piringan hitam yang nyaris dibuang penjual barang bekas karena tak kunjung terjual. Harjadi hanya diminta membayar sekedar ongkos angkut yang tidak begitu mahal.


Kondisinya macam-macam. Ada lagu-lagu dari piringan hitam yang masih bisa didengar utuh, sebagian, atau rusak sama sekali. Namun bagi Harjadi benda-benda itu tetap perlu dilestarikan.


"Sebagian lagu-lagu yang masih bisa didengar saya rekam lagi ke media kaset atau cd. Senangnya waktu ada kenalan orang Amerika, Belanda, dan Jepang yang datang ke rumah melihat koleksi saya. Mereka bilang seperti berada di surga," ungkap Harjadi.


Melalui koleksi benda-benda dokumentasi miliknya, pria yang hijrah ke Bandung sekitar tahun 1970-an ini bisa melakukan penelitian, mempelajari sejarah dan budaya dalam maupun luar negeri.


"Salah-satunya saya betul-betul yakin, keroncong merupakan musik original Indonesia. Seharusnya kaum muda, terutama para musisi, mau menggali dan belajar tentang sejarah musik di Indonesia. Saya siap bantu," tandas Harjadi.


Sayang bangsa ini belum terbiasa mendokumentasi benda-benda bersejarah. Lembaga khusus di pemerintahan pun tak banyak memberi kontribusi, karena kurangnya pemahaman dan ketidaktahuan cara mendokumentasi dengan baik. (ricky reynald yulman)


Bukan Sebatas Tanggal
KETIKA
mempelajari sejarah, kesan kuat yang muncul biasanya sebatas tanggal, tempat, dan kejadian tertentu dengan penyajian data-data kering dan kaku. Kadang disisipi muatan politis kelompok tertentu. Bagi kaum muda belajar sejarah pun kehilangan daya tarik.


Kejenuhan serta ketidaknyamanan belajar teori sejarah ternyata juga dirasakan sekelompok anak muda. Meski dalam hati kecil mereka begitu ingin belajar sejarah. Di antara mereka ada yang masih berstatus mahasiswa sejarah Unpad atau guru TK.


Komunitas kecil ini membentuk Klab Aleut tahun 2006. Tujuan utama komunitas ini yaitu mengajak kalangan pelajar dan mahasiswa belajar sejarah dengan cara-cara menyenangkan. Tanpa menunggu lama, para penggagas komunitas ini langsung menggelar program vacancy ke tempat-tempat bersejarah di sekitar Kota Bandung.


Windarti Krisdiana dari Divisi Dodongengan Klab Aleut, mengungkap Bertjerita Bandoeng lewat Moesik yang digelar di Bloemen Cafe-Resto, Jalan Boscha, Rabu (23/4) malam juga merupakan satu program kerja komunitas.


Perempuan berjilbab yang akrab disapa Uwin ini menjelaskan, semula konsep acara ini merupakan sharing atau bertukar cerita. Namun para peserta yang kebanyakan pelajar dan mahasiswa memanfaatkan kesempatan buat menyerap lebih banyak informasi dari narasumber.


"Lewat kegiatan-kegiatan seperti ini kita ingin mengemas pelajaran sejarah jadi menyenangkan dan menarik diikuti muda-mudi. Kita bisa sama-sama belajar sejarah, meluruskan informasi yang tidak benar, serta menelusuri benang merah satu peristiwa dengan peristiwa lain," ungkap . (ricky reynald yulman)


djawatempodoeloe wrote on Apr 29, edited on Apr 29
aleut said
Daar bij die Molen
Daar bij die molen
die mooie molen
daar woont een meisje
waar ik zo veel van houd

(disana dekat kincir angin itu
kincir angin bagus itu
disana tinggal seorang gadis
yang sangat dicintai saya)

klik disini untuk mendengar lagu lengkap
matajiwaku wrote on Apr 29
sayang ya. banyak musik bagus jaman dulu yang hilang hanya karena gak terdokumentasikan. Saya sangat salut dengan langkah anda untuk terlibat dalam pelestarian budaya ini. Btw gak kasih teks lagunya dong biar kita juga bisa tahu gaya bahasa yang di pakai jaman dulu.
inantidiran wrote on Apr 30
Sayang banget saya tidak bisa ikutan... Tapi sukses selalu lah... Keep up the good work...dan terus jadikan sejarah sebagai sesuatu yang "hip" buat anak muda jaman sekarang....
eskrim wrote on May 1
makasih liputannya, senang sekali saya nggak bisa ikutan tetap bisa dapat informasi acara ini :D
mahanagari wrote on May 20
wuiw ulu baru baca artikel ini hehehe =D
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help