klab's posts with tag: antimuseum

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag antimuseum
Blog EntryantimuseumDec 17, '07 12:02 PM
for everyone

Anak Muda, Kota Tua

(Koran Media Indonesia – Minggu, 3 Desember 2006)

Di Bandung tumbuh banyak komunitas untuk mempertahankan nilai sejarah. Namun, mereka antimuseum! Bagi mereka, museum tak hanya sebatas gedung tempat menyimpan sejarah.

Apa yang terbayang ketika Anda menyebut nama Bandung? Factory Outlet atau wanita cantik? Penganan enak atau jalanan macet di akhir pekan? Mungkin itu benar, tapi sebaiknya sampingkan dulu karena Bandung tak hanya itu.

Beberapa waktu terakhir, di Bandung bertumbuh sejumlah komunitas anak muda yang berkumpul karena kecintaan mereka terhadap sejarah Kota Kembang itu. Sekaligus, mereka prihatin dengan dampak dari arus metropolis yang gila-gilaan menghancurkan Bandung.

Menjamurnya pusat perbelanjaan, kafe, gedung baru, dan sebagainya mengancam karakter kota yang sesungguhnya.

Taufanny Nugraha dari Klab Aleut (aleut berarti ‘jalan-jalan’) adalah salah satu dari anak muda tersebut.

Ia bersama sejumlah rekannya membentuk Klab Aleut yang intinya ingin mengenalkan sejarah Bandung berikut budaya dan gedung-gedungnya kepada siswa-siswi sekolah dan anak-anak.

“Kami ingin memasyarakatkan sejarah Bandung, khususnya dengan mengusahakan kegiatan-kegiatan edukatif seputar sejarah yang dikemas menarik dan menyenangkan,” kata Opan, sapaan akrabnya.

Dia mencontohkan saat ini wilayah Pasteur yang dulunya dipenuhi jajaran pohon palem raja–rimbun dan meneduhkan–telah musnah. Gantinya jalan layang dan pusat perbelanjaan. Padahal, katanya, pada zaman Belanda, Pasteur adalah peristirahatan yang tenang. Juga tempat perawatan orang sakit (Rumah Sakit Hasan Sadikin).

“Kalau dikenalkan sejarahnya, mungkin anak-anak akan memahami betapa perusakan lingkungan itu amat menyakitkan,” kata mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran Bandung itu.

Hingga saat ini, setidaknya Klab Aleut telah dua kali mengadakan kegiatan sejarah buat siswa-siswi sekolah dan anak-anak.

Lokasinya antara lain ke Gedung Sate, Gedung Merdeka, Taman Lansia, Jalan Braga, dan kegiatan menanam bibit pohon seperti dilakukan Van Dorp pada masa lalu untuk menghijaukan Bandung.

Mengharukan, AbA (Abdoelkarim bin Abdoelkadir) membantu tanpa pamrih mengangkut lukisan-lukisan itu ke atas gerobak dan ia ikut sampai ke gedungSocieteit Concordia (Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika) yang megah dan mewah itu. AbA hanya bisa mengantar sampai di depan gedung. Dia membaca tulisan yang berbunyi: verboden voor honden en inlander (Terlarang untuk anjing dan pribumi)” -Paris van Java, Remy Sylado.

Sambil jalan-jalan, Opan menuturkan, peserta diberi tahu sejarah lokasi itu. Misalnya, ketika mengunjungi Gedung Merdeka, diceritakan bahwa gedung itu dahulu bernama Societeit Concordia dan sempat terlarang untuk pribumi (lihat nukilan novel Remy Sylado). Itulah lambang paling terang dari rasialisme kolonial di Bandung.

“Jalan-jalan yang kami lakukan tanpa dipungut biaya. Selama ini kami mengusahakan untuk meminta bantuan dari pemerintah,” terang Opan yang mengaku mendapat pelajaran banyak ketika membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto itu.

Lelaki ini mengakui, dari waktu ke waktu, kegiatan Klab Aleut mendapat sambutan antusias dari siswa sekolah. Itu amat menggembirakan karena inti yang ingin didesakan Klab Aleut ialah supaya anak-anak muda jangan kehilangan identitas dan sejarahnya, seperti halnya Kota Bandung saat ini.

Keprihatinan macam Opan juga dialami Tubagus Adhi dan Rahmat Fajar, aktivis muda dari Bandung Heritage (BH). Mereka juga menilai saat ini Bandung sudah kehilangan karakter sebagai kota tertata. Kegiatan kelompok itu difokuskan pada pelestarian gedung-gedung tua yang kian tergusur pembangunan. BH mencatat sekitar 650 bangunan bersejarah di Bandung terancam kehilangan identitas.

Mereka juga mengeluhkan kacaunya sistem transportasi akibat konsep tata ruang kota yang berantakan. Padahal menurut mereka, dahulu pemerintah Belanda telah mengatur kawasan untuk pemukiman, peristirahatan, terminal, pendidikan, dan sebagainya. “ Tapi sekarang ada permukiman di lokasi perbelanjaan. Perbelanjaan di dekat rumah sakit. Kacau!” papar Fajar.

Karena itu, BH berusaha melakukan sesuatu. Misalnya kampanye, penerbitan, sampai aksi menentang pembangunan yang mengancam gedung bersejarah.

Berbagai strategi dikemas untuk membangkitkan minat dan kecintaan anak muda terhadap sejarah Bandung. Mereka berpendapat tak masalah, misalnya, beberapa gedung tua dipakai untuk tempat berkumpul kaum muda. Cara itu justru bisa menjadi medium mengenalkan sejarah.

Begitulah, anak muda Bandung tak hanya kondang dengan glamor dan belanja. Banyak juga yang beranjak untuk dekat dengan sejarah dan identitas khas kota kebanggaan mereka, Bandung.

(Agustinus Edi Kristianto/M-1)



Antimuseum

UMUMNYA, orang berpendapat, sejarah tercermin dalam museum, dalam arti gedung museum. Namun menurut Taufanny Nugraha dari Klab Aleut Bandung, pandangan itu agak menyesatkan. “Museum bagi kami ialah segala tempat yang punya sisi historis penting atau menarik yang meninggalkan jejak sejarah,” katanya. Karena itulah, menurut dia, dalam setiap kegiatan jalan-jalan yang digelar Klab Aleut, tak pernah ada agenda mengunjungi museum.

Ia memiliki keyakinan pandangan luas tentang museum yang ditanamkan sejak awal pada anak-anak akan membabat habis pandangan sempit tentang sejarah kotanya sendiri. “Mereka akan mencintai kotanya karena mereka mengunjungi dan mengenal sejarah tempat-tempat penting di Kota Bandung,” tutur Taufanny yang biasa dipanggil Opan.

Buah kecintaan itu, menurut Opan, amat berguna. Sebab yang paling disayangkan dari pembangunan belakangan ini ialah mengapa situasi beberapa pojok kota yang sedari dulu sudah nyaman tidak dipertahankan. Contoh paling nyata pembabatan pohon palem raja di Jalan Pasteur yang kini menjadi jalan layang.

“Yang selalu aku takutkan, khawatir terjadi lagi seperti yang menimpa Pasteur. Jangan sampai Jalan Cipaganti dengan pohon mahoninya yang berjajar anggun dibantai lagi,” katanya.

Zorg dat als ik terug kom hier een stad in gebouwn.” (Coba usahakan sekembalinya aku ke tempat ini, sebuah kota telah terbangun) – Pesan Daendles kepada Wiranata Kusumah II, Bupati Bandung, ketika memancangkan titik nol kilometer di Bandung.

Keprihatinan lelaki ini sangat wajar. Keindahan Bandung mulai terkikis. Padahal, panorama kota berhawa sejuk ini sudah begitu dikenal hingga mancanegara. Sebuah buku panduan wisata 1930-an antara lain menulis: ‘Di Bandoeng karesikan anak negri bisa menarik kita poenya perhatian, teroetama kaoem hawanja jang tjantik en manis. Tontonan bioscope ada 10 tempat. Djika ingin lantjong ke ini kota pergoenoengan en ingin contact dengan anak negri, mesti bitjara basaSoenda baroelah bisa tjitjipkeun sarinja Preanger (Priangan) jang diseboet Bandoeng pada ‘de geode oude tijd (masa indah cemerlang), de Bloem van Bergsteden (Bunganya kota pegunungan)’.

Sementara itu, Tubagus Adhi dari Bandung Heritage (BH) mengatakan sejak dulu orang Bandung memang melekat dengan sifat kompromis. Mungkin, katanya, karena sikap kompromis itu, mereka merelakan kotanya dirusak atas nama metropolitanisme.

Ia bilang dampak yang juga bisa dirasakan pascametropolitanisme Bandung saat ini ialah berubahnya karakter masyarakat Bandung. “Orang Bandung sekarang jadi berkarakter keras. Beda dengan dulu,” katanya.

Ia pun kembali berkomentar tentang pandangan sesat sejumlah orang berkaitan dengan pelestarian gedung tua bersejarah. Ada yang mengatakan mempertahankan gedung tua warisan kolonial sama artinya dengan mempertahankan mental bangsa terjajah. Ada juga yang berpendapat merawat gedung tua biayanya jauh lebih mahal ketimbang membangun gedung baru. (Aka/M-1)



Titik Bersejarah di Bandung

  1. Gedung Sate

Ini dia salah satu bangunan yang menjadi ciri paling khas Kota Bandung. Sejarahnya pun penting. Pembangunan Gedung Sate–dulu disebut Gouverment Bedrijvent (Pusat Pemerintahan)–berkaitan dengan pemindahan ibu kota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung pada awal abad ke-20. Dr HP Berlage, arsitek senior Belanda awal abad 20, menyebutnya sebagai karya arsitektur besar.

  1. Jalan Braga

Braga merupakan simbol kejayaan Bandung sebagai Parijs van Java. Kawasan Braga sempat disebut-sebut sebagai de meest Europeesche winkelstraat van Indie (kawasan pertokoan Eropa termewah di Hindia). Di kawasan itu, semua barang kelas satu dipajang di etalase-etalase toko.

Mobil Mercedez atau Renault kala itu dapat dijumpai di ruang pajang pabrik perakitan mobil Fuch en Rens. Busana-busana mode terbaru yang sedang tren di Paris bisa didapat di Au bon Marche Modemagezijn atau Onderling Belang. Pemutaran film dengan fasilitas mewah dapat dilihat di Bioscope Majestic. Ada juga pusat segala hiburan kelas satu di Societeit Concordia yang konon sering menampilkan hiburan-hiburan yang didatangkan langsung dari Eropa.

Di jalan ini juga terdapat Maison Bogerijn, restoran yang mendapat piagam restu langsung dari Ratu Wilhemina sehingga diizinkan untuk menyajikan menu-menu khusus Kerajaan Belanda.

  1. Gedung Merdeka

Gedung ini sempat menjadi simbol kemewahan gaya hidup Bandung. Sejak abad ke-19, gedung ini difungsikan sebagai Societeit Concordia, yaitu sebuah perkumpulan orang-orang Eropa elite di Bandung. Terutama adalah para preangerplanter (pengusaha perkebunan di Priangan). Pascakemerdekaan, gedung itu menjadi tempat terjadinya peristiwa monumental dalam sejarah dunia. Dipilih Soekarno untuk penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika 1955. Kemudian menjadi rahim kemerdekaan banyak bangsa di Asia dan Afrika.

  1. Jaarbeurs

Jaarbeurs merupakan sebuah bursa tahunan yang diselenggarakan di Bandung pada masa Kolonial, sejak 1920 hingga 1941. Penyelenggaraan Jaarbeurs pada Juni-Juli merupakan titik puncak kemeriahan kota Bandung pada masa itu. Dari kegiatan Jaarbeurs pulalah konon istilah Parijs van Java mulai disebut-sebut. Awalnya digunakan tuan Roth, pemilik toko mebel dan interior di Jalan Braga untuk promosi produk-produknya.

  1. Hotel Homann dan Hotel Preanger

Dua hotel ini bisa dibilang paling elite di Bandung pada masa kolonial. Hotel Homann salah satu hotel generasi pertama di Bandung. Tamunya pada zaman dulu tidak sembarangan. Bintang-bintang film terkenal seperti Charlie Chaplin dan Marry Pickford-America’s Sweetheart pernah menjadi tamu hotel ini.

Bangunan Hotel Homann dan Preanger memiliki gaya arsitektur mengagumkan. Merupakan dua dari bangunan kolonial bergaya art-deco paling penting di Nusantara.

  1. Gedung Papak

Pada mulanya sempat berfungsi sebagai kantor direktur perkebunan kina.sejak akhir abad ke-19, kina mulai dibudidayakan besar-besaran, teruatama di perkebunan sekitaran Bandung. Hingga kemudian pada awal abad ke-20, Hindia Belanda tercatat sebagai produsen kina terbesar di dunia. Lebih dari 90% kebutuhan kina dunia saat itu dipenuhi perkebunan-perkebunan di Hindia Belanda, terutama yang ada di sekitar Bandung.

Bandung kemudian mendapat statusnya sebagai gemeente (kota madya) sejak 1906. Sejak itu pula Gedung Papak beralih fungsi menjadi Balai Kota Bandung hingga sekarang.

  1. Pendopo

Pendopo Bandung merupakan simbol pendirian kota Bandung. Ketika Jalan Raya Pos dibangun, Daendels memerintahkan Wiranatakusumah II, Bupati Bandung saat itu, untuk memindahkan pusat pemerintahan Bandung agar mendekati lintasan Jalan Raya Pos. Bupati kemudian memindahkan pemerintahannya ke wilayah Alun-Alun Bandung sekarang dan kemudian mendirikan Pendopo sebagai bangunan pusat pemerintahannya. Maka sejak itulah Bandung yang baru mulai didirikan. Dari peristiwa pemindahan pusat pemerintahan itu kemudian 25 September 1810 dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Bandung.

  1. Titik 0 Kilometer Bandung

Di titik inilah kisah perjalanan Bandung sebagai kota bermula. Sembari menancapkan tongkatnya ke tanah di salah satu titik di tepi jalan tersebut, Daendels pernah berkata kepada Wiranatakusumah II, Bupati saat itu, “zoorg dat als ik terug kom hier een stad in gebouwn.” Artinya, “Coba usahakan sekembalinya aku ke tempat ini, sebuah kota telah terbangun.” Atas kejadian itulah kemudian tongkat Daendels seolah mengubah segala situasi di wilayah tersebut. Wilayah yang kemudian berkembang menjadi Kota Bandung. Titik tersebut kemudian kita kenal sebagai titik 0 kilometer Bandung. Titik yang dianggap simbol awal mula Bandung mulai terbangun dan berkembang.

  1. Vila Isola

Vila Isola salah satu simbol keunikan arsitektur di Bandung. Pada awal abad ke-20, Bandung dibanjiri arsitek-arsitek yang mencurahkan kreasi mereka dengan begitu maksimal. Bandung seolah berfungsi sebagai laboratorium arsitektur bagi para maestro arsitek Belanda. Kreasi percobaan dari para arsitek tersebut kemudian menghasilkan bangunan-bangunan unik dan khas seperti yang kita lihat pada Vila Isola. Vila yang dipesan langsung seorang kaya bernama DW Berretty kepada maestro arsitektur saat itu, Wolf Schoemaker.

(Sumber: Klab Aleut Bandung)


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help