FOTO: KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Belajar dengan Menelusuri Sejarah Kota Bandung
(Koran Kompas – Senin, 18 September 2006)
Sejak mulai pukul 7.30, sejumlah peserta wisata Kota Bandung sudah siap di Jalan Asia Afrika. Minggu (17/9), sebanyak 94 pelajar dan 52 panitia dari Klab Aleut menelusuri Jalan Asia Afrika, Tamblong, Naripan, Perintis Kemerdekaan, Merdeka, Aceh, dan Dipenogoro Kota Bandung sambil mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah.
Mereka datang ke Restoran Braga Permai, yang dulu merupakan restoran paling elite. Setelah mencicipi kue, peserta menelusuri Jalan Braga. Pemandu mengatakan, Braga berasal dari kata balaga atau sikap suka pamer. Sebab, di jalan inilah kaum Belanda memamerkan mobil dan pakaiannya kepada kaum pribumi.
“Saya sering lewat Jalan Braga, tapi baru tahu asal katanya sekarang,” ujar Popi Lestina (16), pelajar SMAN 7 Bandung.
Ia memutuskan ikut acara tersebut setelah Klab Aleut, penyelenggara acara, datang ke sekolahnya. “Saya ikut karena sering jalan-jalan di kota Bandung, tapi sejarahnya saya belum tahu semua,” kata Popi.
Setelah dari Braga, peserta ke Gedung Indonesia Menggugat, yang dulu dinamakan Gedung Landraad atau pengadilan.
Gedung di Jalan Perintis Kemerdekaan No 5 Kota Bandung yang awalnya merupakan rumah pribadi ini dibangun tahun 1909. Rumah tersebut direnovasi tahun 1917 dan dijadikan pengadilan.
Di gedung tersebut, peserta diberi sajian film tentang Bandung tempo dulu. Di masa lalu, Bandung amat asri.
“Kok bisa ya, pembangunan malah membuat kota jadi enggak senyaman dulu,” ujar Popi.
Dalam film tersebut ditayangkan aktivitas di sungai-sungai yang ada di sekitar Bandung. Sungai masih besar dan deras airnya sehingga perahu bisa melayarinya. Film juga banyak bercerita tentang peristiwa Bandung Lautan Api. “Banyak hal yang belum saya tahu tentang BLA (Bandung Lautan Api),” ujar Donni Laraswanda, pelajar SMPN 7 Kota Bandung.
Dari Landraad, sekelompok orang bergerak ke Balai Kota, lalu ke Taman Lalu Lintas atau Taman Nusantara yang pada awalnya bernama Insulinde Park, dan perjalanan pun terus berlanjut menyusuri sejarah kota Bandung.
“Kalau belajar sejarah di kelas, membosankan karena hanya cerita. Kalau dengan wisata, jadi ikut merasakan dan lebih menarik,” ujar Ramadani Wikusuma (17), pelajar kelas III SMAN 4 Bandung.
Helena AS, guru dari SMAN 1 Kota Bandung, mengaku amat senang dengan acara tersebut.
“ Bagus sekali. Saya berharap pelajar dari sekolah swasta bisa diajak,” ujar Helena.
Demas Dirgahari Hubungan Masyarakat Klab Aleut, mengatakan, mereka mengumpulkan bahan tentang sejarah Kota Bandung dari berbagai leteratur.
Setelah disajikan dalam bentuk wisata, Demas berharap generasi muda lebih cinta pada kotanya.
(Yenti Aprianti)