klab's posts with tag: baraka

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag baraka
ReviewReviewReviewReviewReviewBARAKADec 23, '07 11:37 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Education
Kagum, Ratap, dan Renung Atas Bumi
Melihat Bumi Kita dalam Film Baraka (1992)

Sutradara : Ron Fricke
Produser : Mark Magidson
Musik : Michael Stearns
Durasi : 96 menit


Ketika menyimak Baraka, kita akan terbawa dalam sebuah perjalanan menelusuri alam dan peradaban Bumi yang secara tidak langsung mengajak kita mengaggumi, meratapi, serta merenungi Bumi tempat mukim kita. Baraka membawa kita berpikir lebih mendalam mengenai esensi hidup di Bumi—“Baraka” diambil dari istilah Sufi yang padan-arti dengan “nafas kehidupan” atau “esensi kehidupan”. Sutradara Ron Fricke sengaja mengoptimalkan kualitas fotografi dengan menggunakan film 70 mm untuk pembuatan film ini. Beberapa belahan Bumi terindah, titik bersejarah, hingar budaya manusia, kemajuan teknologi, eksploitasi Bumi, hingga bagian-bagian Bumi yang paling tragis terangkum melalui fotografi apik yang diambil di 24 negara di 6 benua. Kumpulan gambar tersebut layaknya gambar-gambar majalah National Geographic yang dihidupkan, dengan musikalisasi yang sangat kuat dan tepat pada setiap bagiannya. Film ini tersaji tanpa sepatah kata pun, baik narasi, dialog, monolog, maupun teks, yang menjelaskan gambar.
Salah satu yang menarik bagi kita adalah keindahan alam serta budaya Indonesia yang ikut tersaji dalam dalam film ini. Mulai dari alam Bali beserta Tari Kecak-nya, Gunung Bromo, Borobudur, Prambanan, buruh rokok di Kediri, serta shalat jama’ah ribuan muslim di Istiqlal. Sedangkan keindahan alam dan budaya di Bumi bagian lain diantaranya Puncak Everest, Yahudi di Tembok Ratapan Jerusalem, para biku di Tibet, Ayers Rock Australia, Pulau Galapagos, ladang minyak Kuwait yang terbakar sisa Perang Teluk, pedalaman Afrika, kamp konsentrasi Nazi Auschwitz, Piramid Mesir, kota tua Angkor, lapang Tiananmen, Swayambhu Nepal, Ka’bah, Meiji Jingu Jepang, Vatikan, jejak pembantaian Khmer Merah di Tuol Sleng Kamboja, upacara kematian di Sungai Gangga, serta banyak tempat dan budaya menarik lainnya.
Sekilas, Baraka hanya menampilkan kekuatan gambar dan dapat dianggap tidak bercerita. Namun penyajian dengan gaya demikian justru memungkinkan kita bertafsir lebih luas. Kumpulan gambar-gambar yang tersaji bisa kita simak sebagai potongan-potongan yang saling berkait dan berurut. Setidaknya di film ini dapat tercermin suatu gerak-adab manusia. Di bagian awal film ditampilkan ritual agama-agama besar di dunia, yang seolah bertutur bahwa Ketuhanan adalah akar fitrah manusia, dasar yang kemudian membuat manusia menjadi berbudaya. Bagian tersebut diikuti visual kemegahan Bumi: biosfer —tanah, air, dan langit — yang begitu alami dan seolah tak terjamah adab manusia. Kemudian dilanjutkan dengan bagian pengembaraan budaya manusia dengan terbentuknya ekumene-ekumene, bagian dari Bumi yang menjadi tempat manusia bermukim dan berbudaya. Budaya penyusun ekumene tersebut lalu terevolusi, dari budaya dasar yang tradisional kemudian beranjak pada teknologi modern yang kemudian mendominasi adab manusia di era mutakhir. Pada bagian ini digambarkan bahwa teknologi seringkali menjadi tidak selaras dengan eksistensi biosfer kita. Kekhilafan teknologi tersebut juga sering tidak disadari pencipta dan penggunanya. Digambarkan bahwa budaya modern kemudian berdampak telak pada percepatan gerak adab manusia di era mutakhir, yang seolah bergerak terlalu cepat.
Menjelang akhir film kita diajak merenung atas sebuah ‘kematian manusia’, sebuah simbol ujung adab manusia di muka Bumi. Jenazah manusia yang dibakar pada suatu ritual kematian, dengan abunya yang dilepas di Gangga, menyadarkan kita kembali mengenai fitrah manusia sebagai bagian dari alam yang menghamba pada Sang Pencipta. Film kemudian ditutup malam dalam gerak rotasi-revolusi Bumi. Pada bagian ini divisualkan gerak putar-edar Bumi yang sangat cepat, seolah melebihi apa yang tercepatkan selama peradaban para penghuninya. Sebuah penggambaran kebesaran Penggerak dan Penciptanya. Dengan menyimak Baraka sepatutnya kita bisa belajar lebih arif menyelaraskan gerak adab Bumi. (oleh Taufanny/2005, pernah dimuat dalam Greeners Magazine, Februari 2006)

* * * *

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help