klab's posts with tag: bertjerita bandoeng

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag bertjerita bandoeng
Blog EntryPra-Kegiatan Bertjerita BandoengDec 17, '07 12:15 PM
for everyone

Mengapresiasi Sejarah, Menjaga Tatanan Lingkungan

Sejarah terlanjur dianggap banyak kalangan sebagai suatu kompleksitas yang menjemukan. Pengulasan materi sejarah di sekolah dan perguruan tinggi cenderung kurang membangun minat para siswa untuk mendalaminya. Hal-hal sederhana yang berkaitan dengan sejarah pun saat ini banyak terlupakan, khususnya oleh kalangan generasi muda. Salah satu contohnya adalah perkembangan sejarah kota yang sebenarnya memiliki banyak hal menarik untuk diapresiasi.

Kota adalah ruang lingkup kehidupan masyarakat yang mendiaminya, tempat beraktivitas di mana masyarakat terus berkembang dan maju. Selayaknya masyarakat yang mendiami suatu kota mengenal lebih dalam seluk beluk perjalanan kota tersebut, serta turut menjaga tatanan lingkungannya sebagai sebuah peran dalam meneruskan sejarah kota tempat tinggalnya. Sisi historis perkembangan kota Bandung menyimpan banyak hal unik dan menarik yang patut kita apresiasi, namun di sisi lain masih banyak masyarakat Bandung masa kini yang sama sekali tidak pernah menyentuh sejarah kotanya.

Terkait dengan hal ironis tersebut, beberapa komunitas yang mempunyai kepedulian lebih terhadap sejarah kota, berusaha mengemas berbagai kegiatan untuk menarik minat masyarakat terhadap perkembangan sejarah kota. Komunitas-komunitas seperti Sahabat Museum dan Komunitas Historia di Jakarta, serta Bandung Heritage, Bandung Trail dan Klab Aleut di Bandung, mulai aktif menyebarkan semangat dalam meneruskan sejarah kotanya kepada masyarakat yang belum menyadari nilai penting dari mengapresiasi perjalanan sejarah kota sebagai tempat tinggal mereka.

Budhi Kurnia, koordinator Klab Aleut, berharap melalui kegiatan-kegiatan yang dikembangkan oleh komunitas-komunitas semacam ini, masyarakat yang mendiami suatu kota dapat bertindak lebih arif serta bijak dalam meneruskan warisan sejarah dan budaya kotanya. “Perkembangan sejarah dan budaya suatu kota bergantung pada masyarakat yang mendiami kota tersebut, maka sudah sepantasnya kita mengenal lebih dekat seluk beluk perkembangan masa lalu kota Bandung untuk dijadikan bahan pembelajaran dalam menata kehidupan dan menjaga tatanan lingkungan kota di masa kini dan yang akan datang,” terang Budhi Kurnia.

Klab Aleut

Klab Aleut yang sekretariatnya berada di Jl. Sumur Bandung nomor 4 ini adalah sebuah komunitas wisata dan apresiasi sejarah yang sifatnya swadaya nirlaba. Penggiat Klab Aleut adalah mahasiswa-mahasiswi, siswa-siswi sekolah serta masyarakat umum yang mempunyai minat dan kepedulian lebih terhadap sejarah dan budaya, khususnya dalam lingkup kota Bandung.

Sejak awal pendiriannya yaitu tanggal 29 Juni 2006 yang lalu, Klab Aleut telah menyusun dan melakukan banyak program yang bertujuan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap sejarah dan budaya serta lingkungan kota Bandung. Hingga saat ini, para penggiat Klab Aleut terus mengembangkan program-programnya sebagai wujud dedikasi mereka terhadap dunia pendidikan dan kebudayaan khususnya di bidang sejarah.

Klab Aleut berusaha mengemas kegiatan edukatif yang berkaitan dengan sejarah secara lebih menarik sebagai media belajar alternatif di samping studi formal di sekolah dan universitas,” tutur Irma Novianti, sekretaris Klab Aleut. “Sejarah yang dipandang kebanyakan hanya bercerita tentang kronologis dan kompleksitas suatu peristiwa menjemukan, dalam program-program Klab Aleut dicoba dikenalkan mulai dari hal-hal kecil yang paling sederhana dan paling dekat dengan kehidupan kita. Hal itu bertujuan untuk mengajak para penggiat Klab Aleut agar lebih peka terhadap hal-hal kecil berkaitan dengan sejarah, sekaligus mewarisi budaya dan lingkungan hidup tempat tinggalnya,” lanjut Irma Novianti.

Kegiatan-kegiatan yang pernah diselenggarakan Klab Aleut adalah Bandoeng Vacantie (wisata sejarah budaya kota Bandung dalam rangka memperingati hari jadi kota Bandung ke-196), September 2006; Menyusuri Lorong Tua Hotel Soerabaja (Bekas Hotel De Express) , Oktober 2006; Penanaman Pohon di Taman Cilaki, Februari 2007; Kuliah Santai Art Deco (di gedung Indonesia Menggugat), Maret 2007; Bezoekt Boscha (Kunjungan ke Villa Peninggalan K.A.R .Boscha di Pangalengan), April 2007; Wisata Hutan Kota (Tahura , Dago-Bandung), Mei 2007; Pesta Djagoeng dan Nongton Gambar Idoep (Peringatan Hari Jadi 1 Tahun Klab Aleut), Juni 2007. **

Bertjerita Bandoeng

Agenda terdekat yang direncanakan Klab Aleut untuk dilaksanakan awal bulan Desember ini adalah kegiatan bertajuk Bertjerita Bandoeng, sebuah acara berupa ruang bicara yang dibuat dalam atmosfer santai dan menyenangkan namun tetap bermakna. Teknisnya mirip sebuah forum obrolan atau diskusi informal, yang dibumbui beberapa variasi lain seperti pemutaran film dan musik, serta pencitraan foto dan gambar pendukung.

Kegiatan ini akan mengundang apresiasi kalangan muda Bandung khususnya para pelajar sekolah menengah agar bisa mengenal lebih dekat sejarah dan budaya kota Bandung yang ditampilkan dalam porsi ringan dan santai. Acara ini dibagi menjadi dua sesi yang tiap-tiap sesinya akan mengulas tentang kisah yang berbeda.

Akan ada beberapa orang narasumber sebagai penutur kisah dalam kegiatan ini. Diantaranya adalah Sudarsono Katam, penulis buku berjudul Album Bandung Tempo Dulu, Kisah Gedung Sate, akan menjadi penutur kisah pada sesi Bertjerita Gedong Sate. Selain itu, H.R.E. Goerjama, seorang warga Bandung senior yang pernah mengalami masa keemasan Bandung tempo dulu, akan menjadi penutur kisah pada sesi Bandoeng in De Goede Oude Tijd (Bandung pada masa lalu nan indah).

Ulasan sejarah dalam Bertjerita Bandoeng memilih kafe sebagai tempat pelaksanaan kegiatannya. Taufanny Nugraha, salah seorang penggiat Klab Aleut berpendapat, kafe sejatinya merupakan media interaksi masyarakat di mana wacana, informasi, serta pengetahuan bergulir dan dibicarakan banyak orang yang datang ke dalamnya seperti Camus, Sartre, dan Simone Beauvoir di kafe Lé Flore, atau Kafka dan Max Bord di kafe (Kavarna) Slavia, juga Ernest Hemingway, James Joyce, dan Oscar Wilde di Lés Deux Magots. Menurut pria yang mempunyai nama sapaan Opan ini, kelaziman lama dalam sebuah kafe tersebut kini nampak agak tergeser dengan fungsi kafe yang lebih kita kenal sebatas tempat mencari panganan dan minuman serta tempat bersantai dan menghibur diri saja. “Nilai lebih dari kafe inilah yang coba diangkat kembali dalam kegiatan Bertjerita Bandoeng,” terang Taufanny. ***(Demas/Aleut)

Apa Tanggapan Mereka?

Sejarah kota Bandung di mata generasi muda Bandung.

Dra. Helena Asri Sinawang, MH. (Guru sejarah SMAN 1 Bandung), berpendapat bahwa generasi muda, khususnya pelajar, perlu dihadapkan dengan fakta-fakta sejarah yang ada untuk bisa berfikir kritis dengan melihat masa lampau dan menghargai peninggalan-peninggalan sejarah, sehingga mereka bisa memahami dan menumbuhkan kesadaran dalam diri agar dapat mengimplementasikan nilai-nilai sejarah dalam kehidupan bermasyarakat.**


Max Wardana (Public Relations & Promo Radio Rase), menurutnya Kota Bandung merupakan bagian dari bangsa ini. Sebagai bukan orang asli Bandung yang menetap di Bandung, Max merasa sangat mencintai Bandung. Terlebih dengan peninggalan sejarah yang masih tersisa di kota ini, dia berharap bagian sejarah ini akan tetap ada sampai hari tuanya nanti.

Meski saya menutup mata tentang perkembangan pembangunan kota Bandung yang secara tidak langsung berpengaruh pada situs-situs yang ada, saya harap keseimbangan antara pengembangan dan sejarah kota masih terus terjaga. Mari kita terus jaga keseimbangan tersebut sampai kapanpun juga. Keep Bandung beautiful euy!,” pesan Max Wardana kepada masyarakat kota Bandung.**

M. Ryzki (Penggiat Klab Aleut), menilai bahwa saat ini masih sedikit sekali kalangan masyarakat, khususnya pelajar yang mengetahui sejarah kota Bandung. Oleh karena itu jangan kaget apabila kita menemukan generasi muda yang bersikap acuh tak acuh terhadap kondisi lingkungan kota Bandung. “Penanaman kesadaran dan rasa memiliki terhadap lingkungan kota harus dimulai sejak dini, diawali dengan pengenalan terhadap sejarah kota tersebut, sehingga akan tertanam di benak kaum muda mengenai kondisi Bandung tempo dulu yang tidak kalah hebat dibanding kota-kota di Eropa sana,” ucap M. Ryzki.***


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help