Mesin Waktu dalam Ruang-Lorong Hotel
Menilik Daya Tarik Masa Lalu di Hotel Surabaya
Sejak pendirian Kota Bandung pada 1810, hingga sekitar 1870-an, di Bandung samasekali belum terdapat hotel atau jenis penginapan apapun yang dikelola secara profesional. Jika pelancong jauh berlibur atau singgah di Bandung, maka mereka akan menjadi tamu bupati, menginap di pendopo kabupatian. Baru kemudian bisnis perhotelan yang dikelola secara professional mulai dirintis oleh keluarga Homann sejak sekitar 1870-an.
Pada dekade berikutnya, pembukaan jalur kereta api lintas-Priangan dengan trayek Batavia-Bandung via Bogor-Cianjur yang diresmikan pada 1884 memicu perkembangan perhotelan di Bandung. Banyak hotel-hotel baru bermunculan pada masa itu. Salah satu wilayah strategis yang paling banyak dimanfaatkan sebagai tempat usaha perhotelan tentu saja adalah area sekitaran stasiun keretaapi. Tamu pelanggan hotel-hotel tersebut adalah para tamu yang berdatangan ke Bandung dengan jasa Staats Spoor en Tremwegen. Para pendatang, baik pelancong, pengusaha, atau mereka yang hanya transit, tidak usah repot jauh-jauh mencari tempat istirahat atau menginap. Di sekitaran stasiun keretaapi Bandung telah banyak pilihan hotel dengan tingkat kelas yang beragam. Banyak dari hotel-hotel di sekitaran stasiun adalah milik orang Tionghoa. Itu karena wilayah stasiun berdamping-dekat dengan area pecinan. Yang menjadi unik, banyak dari hotel-hotel Tionghoa tersebut menggunakan nama-nama kota sebagai nama hotel mereka, sedari Hotel Batavia, Hotel Semarang, Hotel Cheribon, Hotel Semarang, atau bahkan Hotel Bandoeng. Hotel Expres yang mulai dibuka resmi sejak awal abad pun kemudian berganti nama menjadi Hotel Soerabaia yang nama hingga sekarang masih bertahan dengan ejaan baru menjadi Hotel Surabaya. Hotel-hotel dengan nama tematis yang meminjam nama-nama kota tersebut tersebar di area pecinan, dari lintasan jalan utama Gardujati, Kebonjati, Suniaraja, hingga di jalan-jalan kecil di sekitaran Pasar Baru.
Dari sekian hotel yang disebut, Hotel Surabaya (d/h Express) merupakan salah satu hotel tua di Bandung yang hingga sekarang masih bertahan, baik fisik bangunannya, maupun fungsinya sebagai hotel. Mungkin di kota ini Hotel Surabaya adalah hotel tertua yang masih bertahan dengan rupa fisik bangunannya. Setidaknya, bangunan besar Hotel Surabaya yang kita kenal sekarang telah ditempati Hotel Express (nama terdahulunya) sejak 1917, ketika hotel tersebut pindah dari bangunan lamanya yang jauh lebih sederhana. Bangunan baru Hotel Express adalah bangunan indis bercorak neo-klasik bercampur gaya victorian yang dipadukan dengan nuansa pecinan, dihiasi kaca patri dengan pola warna hijau, ungu, dan kuning, yang daya-tariknya masih bisa kita temukan hingga hari ini. Dengan bangunannya yang tergolong mewah untuk ukuran abad lalu dengan fasilitasnya yang diunggulkan, hotel ini sempat menjadi hotel-tionghoa paling terkemuka di awal abad lalu. Promosinya bahkan menyebut-nyebut bahwa hotel ini telah berstandardisasi hotel-eropa.
Ketika kita masuk menjejaki bangunan hotel tua ini, nuansa kemewahan sisa abad lalu memang masih terasa cukup kuat. Menapak pada bibir pertama bangunan Hotel Surabaya, praktis kita akan terbawa pada atmosfer seabad lalu, terasuk pada suasana akhir abad XIX. Kedalaman imajinasi-waktu kita akan dirangsang untuk seolah berada pada masa yang telah begitu jauh berlalu. Melangkah pada ruang sayap kiri yang dimanfaatkan sebagai lobi utama hotel, kita bisa temukan suasana ruang yang begitu eksotis dalam konteks waktu: Sebuah ruang menguning yang telah melintasi sekian zaman. Tata ruangnya begitu sahaja namun tetap berkesan elegan. Lengkap dengan segala perabot klasik: kursi, meja, rak, lemari dari masa sekitar peralihan abad XIX ke abad XX. Pada satu sisi, dindingnya dihiasi foto hitam-putih—yang juga turut menguning: bergambar keluarga saudagar Tionghoa, pemilik sekaligus pendiri hotel ini terdahulu. Sebuah poster-berbingkai bergambar Moulin Rouge, foto-foto suasana pojok kota pada masa lalu, serta kliping koran tua yang juga dibingkai, berlapis debu tipis, tergantung pada sisi dinding yang lain. Lantai ruang pun tidak luput dihiasi tegel bercorak-pola klasik.
Pemesanan kamar hotel bisa dilakukan pada ruang sisi kanan bagian depan hotel. Hitungan bea-inapnya adalah orang-per-orang calon penginap—samasekali bukan hitungan jumlah kamar yang dipesan. Bagi anda yang datang sendiri, petugas hotel akan mengantar anda pada kamar dengan satu dipan-tidur. Jika anda berdua atau bertiga, maka akan disiapkan kamar dengan jumlah dipan-tidur sesuai dengan jumlah penginap. Ada dua kamar paling besar yang dapat menampung empat penginap dengan empat dipan-tidur. Jumlah seluruh kamar mencapai 60. Jika anda ingin kamar khusus, maka anda bisa pilih kamar yang ada pada bagian belakang hotel, dengan rustbank—tempattidur besi zaman Belanda—yang dilindungi kelambu tipis.
Untuk beranjak ke lantai atas, kita akan melalui sebuah tangga tua dengan arsitektur klasik, berbahan kayu jati kualitas satu berwarna gelap. Hampir seluruh lantai ruang dan lorong di tingkat dua dilapisi papan-papan kayu jati yang selaras dengan tangga naik tadi. Dari lantai atas ini, kita bisa menyebrang ke teras atas pada bagian menara utama hotel yang memiliki bentuk unik gaya neo-klasik.
Sebagian besar bagian hotel masih menyisakan atmosfer masa lalu yang kental. Mamasuki tiap bagiannya layaknya kita pergi dalam mesin waktu, melintasi zaman, melancong ke akhir abad XIX sambil menemukan daya tarik ruang pada masa tersebut. Kedalaman imajinasi-lintas-zaman sekaligus keberanian nyali anda dapat segera anda uji sendiri di hotel yang satu ini. ***
Hotel Surabaya?
“Temukan ‘seorang’ Ibu berkebaya hijau-kelam dengan tatapan senyum polos: tanggung dan mencengangkan.”- Ari Yanto, Poliklab Koedamaoeng Bandung
“Jeritan Tengah Malam!”- Anton, Perpoestakaan Batoe Api
“Menginap di abad ini, kemudian terjaga-tengah-malam di akhir abad ke-19 dengan derau kereta kuda yang melintasi Kebondjatiweg!” - teman-teman Aleut
* * * *