Taufanny Nugraha
Agar Bandung Tetap Jadi Bandung
"Naek ka Gedong Sate, rasaken resep aseli Bogerijn, nongton gambar idoep, nanem pohon ala Van Dorp..." Itu disajikan dalam acara yang digagas Klab Aleut, sebuah komunitas wisata dan apresiasi sejarah. Komunitas yang didirikan Taufanny Nugraha, mahasiswa jurusan Sejarah Fakultas Sastra Unpad 2003 ini, membawa anak-anak sekolah tamasya ke titik-titik penting sejarah Kota Bandung, sembari mengajak untuk menjaga kelestariannya.
Opan --panggilan akrabnya-- tak memungkiri, terkadang pelajaran sejarah terkesan membosankan. Dengan tidak tahu (sejarah/masa lalu), tentu jadi tidak perduli, bukan? Padahal, pengetahuan itu bisa sangat berarti untuk pijakan langkah masa depan.
Pendirian Klab Aleut sendiri didasari keinginannya yang sederhana, membuat belajar sejarah jadi menyenangkan. Penyajian yang menarik dan cenderung populer, bisa membuat anak-anak muda tergugah, begitu pendapat laki-laki yang mengambil kuliah jurusan sejarah, karena terkesan dengan buku "Bandoeng Tempo Doeoloe" karya Haryoto Kunto ini. "Buku itu bernilai informasi penting dan bertutur dengan menarik. Bagus, tuh buku sejarah kayak gitu," katanya.
Embrio Klab Aleut, berawal di kampus sejarah Unpad. Tahun 2004-2005, nama Aleut (berasal dari bahasa Sunda, artinya berjalan bersama) masih sebagai nama acara ("Aleut Mijn Bandoeng"), yang digagas Opan bersama teman-temannya di Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himse) Unpad. Kalau tahun 2004 hanya untuk intern kampus, tahun 2005, acara itu mengundang perwakilan pelajar SMA se-Kota Bandung. Sampai akhirnya, Juni 2006, Opan resmi mendirikan Klab Aleut, dengan segmentasi anak muda (khususnya anak sekolah), bukan lagi bagian dari acara kampusnya.
September 2006 lalu, Klab Aleut menggelar acara "Bandoeng Vacantie", dengan peserta sekitar 100 pelajar SMA Kota Bandung. Acara gratisan ini, berupa jalan kaki dari Gedung Merdeka sampai Gedung Sate. Melintasi lebih dari 20 titik, dari mulai titik kilometer 0 (nol) Bandung, sampai patung Verbraak. Ditambah pula dengan peragaan berbagai tradisi ala zaman dulu, dan tentunya kisah-kisah yang melatarbelakanginya. Dalam kesehariannya, para pegiat Klab Aleut juga punya jadwal rutin kumpul-kumpul atau jalan-jalan ke berbagai tempat bersejarah. Tertarik mengetahui lebih lanjut? Ikutin nih petikan perbincangan Kampus dengannya!
Dari konsep acara yang dibuat, sebenarnya mau apa?
Kita jalan-jalan pada rute yang dianggap bisa mewakili sejarah Bandung. Dari mulai bagaimana Bandung berdiri, sampai pada masa jayanya Bandung pada era Parijs Van Java tahun 1930-an. Walau sekilas, tapi setidaknya titik penting di Bandung harus diketahui
anak-anak ini.
Sebenarnya banyak konsep dari tim kreatif belum terealisasi. Dananya tidak cukup. Kita dapat dana dari sponsor. Dari pemerintah juga ada dikit, yaitu dari pemda. Kalau dari pemkot mah kacau. Panitia Hari Jadi Kota Bandung tahun lalu, tidak menembuskan proposal. Kalau waktu tahun 2005 masih dapat.
Inginnya sih ada sisi rekonstruksi. Gimana caranya suasananya jalan-jalan benar-benar seperti tempo doeloe, jadi terasa seperti dulu, nggak cuma dongeng aja. Misalnya, ada jongko goyobod, setelan pemandu lancongnya juga diperluas seolah seperti tempo doeloe, dsb. Tapi, ternyata susah. Dananya nggak banyak. Reskonstruksi itu lebih ke sisi hiburan sebenarnya.
Tadi kamu bilang, sejarah kota ini harus diketahui
anak muda. Apa sih pentingnya?
Pentingnya, untuk menggugah apresiasi mereka, mengetahui sejarah kotanya. Untuk menggugah itu, maka kita berusaha bikin acara sejarah, yang gimana caranya supaya menarik. Supaya mereka yang sebelumnya mungkin menganggap, pelajaran, buku, atau guru sejarah itu garing pisan, jadi berubah. Sejarah itu menarik lho. Kita bisa belajar dengan melihat taman, gedung, kue, dsb.
Dalam konteks Bandung, kita ingin Bandung tetap punya identitas sebagai Bandung. Kan sekarang anak-anak muda lebih kenal Parijs Van Java sebagai mal di Sukajadi atau factory outlet (FO) di Cihampelas. Bandung sendiri sekarang sudah seperti bukan Bandung. Lebih menjurus ke metropolis. Nah, kita mengenalkan bahwa Bandung dulu tuh sebenarnya begini, konsepnya dulu begitu. Nah, jangan sampai Bandung yang kita tinggalin sekarang, menjadi kota yang baru, seolah seperti Jakarta. Nah, gombalnya mah itu, he he he.
Apa indikasi yang kamu lihat tentang Kota Bandung menjurus ke metropolis?
Pembangunannya sudah gila-gilaan. Sudah nggak melihat kota ini sebagai Bandung. Jalan layang lah, mal di mana-mana lah, sudah nggak Bandung banget! Ini kalau dibandingkan dengan awal perkembangan Kota Bandung-nya.
Apa menurut kamu tidak perlu ada pembangunan?
Bukan! Tapi pembangunannya harus sesuai. Kalau dulu, ada penataan, misalnya, di titik mana pusat pertokoan, sisi mana permukiman, di mana untuk perkantoran, ini soal tata ruang. Dago yang harusnya perumahan, sekarang jadi FO semua. Bandung Utara sudah jelas parah. Penggundulan di mana-mana, bentar lagi mungkin bakal banjir kayak Jakarta. Di depan RSU Hasan Sadikin sekarang ada jalan layang. Padahal, dulu RS itu dibuat di pojok sana supaya nyaman dan jauh dari keramaian. Sebenarnya pembangunan membabi buta tidak apa-apa, tapi terarah, sesuai dengan yang dulu direncanakan, jadi Kota Bandung bakal tetap enak suasananya. Kalau sekarang kan, daerah ini piduiteun, yang itu juga, ah jadikeun weh, yah begitulah.
Apa perencanaan dulu sudah pasti lebih baik?
Aku pikir dan dari yang aku baca, rasanya begitu. Dulu tuh punya perencanaan teratur. Ada cerita, turis tempo doeloe, kesan pertama ketika menginjak ke Kota Bandung tahun 1930-an, katanya, kota ini benar-benar tersusun rapih. Kalau sekarang kan, wah, rieut euy! Pasar Baru seperti itu, Dago seperti itu, dsb. Palem Raja yang berjajar jadi Boulevard di Pasteur, eh jadi jalan layang. Padahal Palem Raja itu kan umurnya lebih dari 80 tahun.
Kalau pembangunan Bandung kebablasan, tidak belajar dari Jakarta atau dari tempo doeloe, bisa saja Kota Bandung seperti Jakarta sekarang, kena banjir besar. Dulu, kan katanya Babakan Siliwangi mau dibikin kondominium. Wah, kalau sampai terjadi, gila kan, daerah resapan air gimana? Observatorium Bosscha juga hampir terancam, dengan adanya Setiabudi Apartemen, Ciumbuleuit Apartemen, sekarang tambah Dago Butik. Ah, sudah deh, lama-lama nggak bisa lihat bintang lagi karena polusi cahaya.
Intinya, sih, kita ingin mengajak para peserta supaya bisa berkaca ke belakang. Jadi, saat dia punya peran membangun atau membuat kebijakan untuk Bandung, dia bisa berkaca, bahwa Bandung punya perjalanan yang panjang, yang tak bisa jol-jol diputus, buat jadi kota yang baru.
Omong-omong buku pelajaran tentang sejarah, memang sebegitu membosankannya, ya?
Buku-buku sejarah yang dibuat baku, sangat banyak. Tapi untungnya masih ada juga sejarawan ilmiah, yang latar belakang metodologisnya kuat, tapi tulisannya dibuat menarik. Tapi, masih banyakan yang baku sih, kayak (buku-buku) yang di SMA itu. Seolah-olah pelajaran sejarah hanya menghapal. Seolah-olah hanya berhubungan dengan perang, pahlawan, tahun-tahun lahir, dsb.
Bicara tentang potensi wisata Kota Bandung, sepertinya lebih banyak orang yang tertarik wisata belanja, atau pertunjukkan, dari pada situs sejarah atau purbakala. Menurut kamu?
Iya, memang. Ada bangunan yang tadinya ada sisi sejarahnya, malah dihabiskan sama sekali. Di Jln. Riau, misalnya, ada salah satu bangunan berdesain art deco. Di Dago juga ada. Eh, malah dirompalin sama yang punya FO. Banyak yang tadinya arsitekturnya menarik dan bernilai tinggi, eh malah dihancurkan. Sebetulnya itu dilindungi UU cagar budaya. Itulah, mungkin awalnya karena tidak tahu, jadi tidak peduli. Padahal Bandung urutan 9 di dunia untuk tempat yang punya bangunan art deco terbanyak, bahkan di atas sentra art deco sendiri yaitu di Paris.
Sebenarnya ada Bandung Trails, Bandung Heritage, juga yang concern soal ini. Kalau Bandung Trails lebih ke wisata, kalau Bandung Heritage lebih ke konservasi. Klab Aleut sejauh ini wisata, tapi kita ingin juga lebih dari itu, yaitu mengapresiasi sejarah. ***
dewi irma
kampus_pr@yahoo.com