klab's posts with tag: republika

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag republika
Blog EntryHobi & HabitDec 17, '07 12:34 PM
for everyone
(Republika - Sabtu, 08 Desember 2007)

Mencintai Sejarah Ala Klab Aleut

Sebagian besar anggota komunitas adalah para remaja Kota Bandung.

Sejarah. Bagi sebagian orang, khususnya pelajar, pelajaran ini boleh dibilang bersinonim dengan kata bosan dan menjemukan. Terlebih bila harus berkutat dengan buku teks tebal, hafalan, dan cara mengajar yang membosankan, maka sempurnalah makna membosankan itu. Fenomena itulah yang membuat prihatin para anak muda kota kembang Bandung. Sejarah yang enggan diingat lagi oleh remaja membuat anak muda Bandung --tepatnya para mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Sejarah Universitas Padjadjaran (Himse Unpad) Bandung-- merasa inilah saatnya untuk bergerak.

Demas Dirgahari mengungkap keresahan itu. ''Kita melihat banyak anak muda yang sebenarnya ingin tahu sejarah terutama sejarah Kota Bandung, namun tidak tahu harus ke mana mencarinya,'' kata pria berusia 23 tahun itu. Maka, lahirlah suatu komunitas muda pencinta sejarah di kota kembang Bandung bernama 'Klab Aleut'.

Nama komunitas yang terkesan aneh ini mulai berdiri sejak tanggal 29 Juni 2006 lalu. Mereka mengenalkan sejarah lebih menarik dan sederhana sehingga banyak anak muda yang tertarik mendalami sejarah khususnya mengenai sejarah Kota Bandung. Awalnya, para pendiri komunitas ini adalah para mahasiswa sendiri. Kemudian mereka mengembangkan diri dengan membentuk komunitas yang lebih luas. Tak hanya mahasiswa, melainkan para pelajar hingga masyarakat.

Bila pelajaran sejarah biasanya tampil monoton, mereka mengemas sejarah dalam bentuk menarik dan kreatif. ''Sejarah ditampilkan dari sisi yang berbeda dibanding yang biasa diajarkan di kelas sekolah maupun universitas,'' ujar Demas yang juga mahasiswa semester I Jurusan Teknik Informatika di sebuah perguruan tinggi swasta Bandung. Misalnya, sejarah Bandung dikenalkan kepada para pelajar maupun mahasiswa dengan berjalan-jalan ke gedung-gedung bersejarah di Kota Bandung. Sambil berwisata, kata dia, para pelajar diterangkan berbagai sejarah bangunan tersebut.

Seperti ketika Klab Aleut pertama kali mengadakan acara Bandung Vacantie yang digelar bulan September 2006 lalu. ''Bandung Vacantie mengenalkan sejarah budaya Bandung seperti dengan berjalan-jalan ke Gedung Merdeka dan Gedung Landmark,'' ungkapnya. Selama satu tahun sejak berdiri, Klab Aleut telah melakukan kegiatan wisata sejarah seperti menyusuri lorong tua Hotel Soerabaja (bekas Hotel De Express) pada Oktober 2006; penanaman pohon di Taman Cilaki pada Februari 2007, kuliah santai art deco (di gedung Indonesia Menggugat), Maret 2007; 'Bezoekt Boscha' (kunjungan ke vila peninggalan K.A.R Boscha di Pangalengan), April 2007; wisata hutan kota (Tahura, Dago-Bandung), Mei 2007; serta 'Pesta Djagoeng dan Nongton Gambar Idoep' (Peringatan Hari Jadi 1 Tahun Klab Aleut) pada Juni 2007.

Meskipun tidak secara rutin mengadakan kegiatan, para anggota Klab Aleut kerap melakukan berbagai aktivitas diskusi di sekretariat yang berlokasi di Jalan Sumur Bandung nomor 4, Bandung. Berkat kreativitas itulah, jumlah anggota Klab Aleut sampai sekarang berkembang pesat. ''Mereka tidak hanya orang Bandung, bahkan orang di luar Bandung pun ada yang menjadi anggota,'' tutur Demas.

Hingga kini, anggota klab telah mencapai 100 orang. Padahal pada awal berdiri klab itu hanya beranggotakan sebanyak 46 orang. Yang menarik, para anggota itu tak melulu wajah segar seperti pelajar dan mahasiswa. ''Bahkan, para guru mereka juga menjadi anggota klab,'' ujar Demas. rig ( )

Sabtu, 08 Desember 2007

Saatnya Anak Muda Peduli

Apa yang dapat dikenang dari Bandung? Di luar urusan belanja dan wisata kulinernya, Bandung juga dikenal dengan gedung-gedung tua bersejarah dan melegenda. Sebut saja seperti Gedung Sate, Museum Geologi Nasional, Kantor Besar Pos Bandung, Gedung Bank Indonesia, dan Hotel Savoy Homann.

''Kota Bandung dilihat dari sisi historisnya menyimpan banyak hal yang unik dan menarik untuk kita apresiasi,'' kata Demas Dirgahari, salah seorang pendiri Klab Aleut. Sayangnya, tak banyak warga Bandung yang berminat mengapresiasi sisi sejarah kotanya sendiri. Bagi Demas, warga suatu kota seharusnya mengenal lebih dalam seluk beluk perjalanan kota itu dan menjaga tatanan lingkungannya. ''Namun, masyarakat Bandung masa kini sama sekali tidak pernah menyentuh sejarah kotanya,'' ujarnya.

Semula, para anggota dan penggiat Klab Aleut serupa anak muda lain yang tak peduli dengan lingkungan sekitar dan asyik dengan dunianya sendiri. Namun, sedikit demi sedikit, segelintir anak muda Bandung mencoba peduli dengan keberadaan sejarah kotanya sendiri yang begitu terpinggirkan. Terlebih, sejatinya, senantiasa ada hikmah di balik sejarah. ''Sejarah adalah guru kehidupan untuk melangkah lebih baik lagi ke depan,'' kata Demas. Di matanya, kepedulian pemerintah terhadap sejarah Bandung juga masih sangat kurang. Akan tetapi, meskipun tanpa ada dukungan dari pemerintah, ia yakin sejarah dan komunitas pencintanya akan tetap bertahan.

Kini, Demas lebih berbesar hati lantaran makin banyak saja orang yang peduli dengan sejarah. Tak hanya komunitasnya, ada pula sejumlah komunitas serupa yang menyebarkan semangat dan informasi tentang sejarah kota di antaranya Sahabat Museum dan Komunitas Historia di Jakarta, Bandung Heritage dan Bandung Trail di Bandung. Inilah saatnya anak muda lebih meresapi sejarah.rig ( )

Kenangan dari Sudut Kafe
Suasana Roemah Nenek Resto Cafe di Bandung pada Selasa (4/12) lalu terlihat berbeda. Di salah satu sudut, dua orang pelajar yang menggunakan pakaian tradisional Sunda terlihat mempersilakan para tamu memasuki ruang.

Di ruang itu, sekumpulan pelajar yang masih menggunakan seragam sekolah tampak membaur dengan kumpulan orang dewasa lainnya. Bukan sekadar makan-makan dan mengobrol, para pelajar itu terlihat santai dan menikmati alur diskusi bertema 'berat': Sejarah Kota Bandung. Diskusi makin hangat dengan sejumlah pertanyaan kepada sesepuh warga Bandung di antaranya H R E Goerjama yang ketika itu menjadi pencerita sejarah Kota Bandung.

Kenangan itu pula yang membuat peserta diskusi enggan beranjak. Bahkan, ketika senja temaram memasuki waktu Maghrib, tak satu pun peserta yang meninggalkan acara. Itulah salah satu acara mengenal sejarah yang diadakan oleh Klab Aleut. Jauh dari kesan menggurui dan rasa bosan, anak muda dan generasi 'lawas' membaur membangkitkan kenangan indah tentang Bandung.

Ini pula yang menjadi daya tarik utama komunitas yang baru berusia satu tahun itu. Seperti diungkap Irma Novianti (20 tahun). ''Awal pertama kali bergabung dengan Klab Aleut karena saya hobi jalan-jalan,'' ungkap salah seorang mahasiswa perhotelan di Bandung yang kini menjadi anggota Klab Aleut itu. Irma yang sejak SD sampai SMP tinggal di luar Bandung itu merasa makin tertarik dengan Klab Aleut karena klab itu menampilkan sejarah dengan cara yang berbeda.

Bergabung dengan Klab Aleut, kata Irma, membuatnya lebih banyak tahu tentang sejarah Kota Bandung. ''Klab Aleut mengubah image selama ini bahwa sejarah itu membosankan. Padahal, ternyata mengasyikkan kalau diberikan dengan cara berbeda,'' tuturnya. Anggota Klab Aleut lainnya, Silvia Elliyani, mengungkapkan bahwa ketertarikannya bergabung dengan komunitas itu karena kemasan acaranya berbeda dengan yang lain. ''Lihat brosur acaranya saja sudah aneh dengan tampilan model dulu. Itu sudah menarik orang lain yang penasaran untuk datang,'' kata perempuan berusia 18 tahun itu.

Selain menambah ilmu tentang sejarah Kota Bandung, lanjut Silvia, dia juga ingin menambah teman dan pengalaman. Sampai sekarang, paparnya, dia masih belajar untuk mengetahui seluk beluk Kota Bandung yang unik dan memiliki ciri khas tersendiri dibanding kota-kota lain. Demas Dirgahari, pendiri Klab Aleut, mengaku tak akan membebani masyarakat yang ingin menjadi anggota komunitasnya. ''Yang terpenting mereka mempunyai kepedulian lebih terhadap sejarah Kota Bandung,'' ujarnya. Kepedulian yang berawal dari kehangatan suasana di kafe. rig ( )

Semangat Bandung

* Nama yang aneh
'Aleut' sendiri adalah kata dari bahasa Sunda yang artinya berjalan beriringan. Atau lebih sederhananya, wisata berjalan kaki secara bersama-sama. Kata 'aleut' mencerminkan aktivitas komunitas tersebut yang sering berjalan-jalan sambil bercerita tentang sejarah sebuah kota khususnya Bandung.

* Pasti gratis
Setiap acara Klab Aleut pasti gratis, karena tidak ada biaya apa pun untuk mengikutinya. Dana kegiatan komunitas tersebut lebih banyak bersumber dari pihak donatur atau sponsor. Nah, inilah yang juga menjadi daya tarik para kaum muda bergabung dengan klab itu. Bila ada biaya, itu pun atas dasar kemauan para anggota yang ingin jalan-jalan ke tempat bersejarah di Kota Bandung. Selama ini Klab Aleut membagi kegiatannya menjadi dua bagian, yaitu kegiatan yang hanya ditujukan bagi internal anggotanya dan kegiatan yang dibuka untuk warga masyarakat secara umum.

* Ditolak pemkot
Kendati mendengungkan sejarah Bandung, hingga kini Pemkot Bandung seolah tidak peduli dengan keberadaan mereka. Sejumlah proposal yang disampaikan ditolak oleh pemerintah dan tidak pernah ditanggapi. Bantuan dari pemerintah baru sekali diberikan. Itu pun dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 2006 lalu.

* Kafe ke kafe
Tahun ini Klab Aleut menggelar dua acara besar di akhir tahun. Kedua acara tersebut digelar di dua tempat yang sangat identik dengan ciri khas 'kota'. Acara pertama diadakan di rumah makan Roemah Nenek Resto Cafe. Kafe yang berada di pusat kota, tepatnya di Jalan Cibeunying Selatan 47 Bandung, berlokasi tak jauh dari gedung bersejarah, Gedung Sate.

Seperti temanya, interior acara dirancang dengan dekorasi Bandung zaman dulu. Di tiap sudut ruangan banyak ditemui foto bangunan bersejarah di Kota Bandung dan suasana jalan-jalan terkenal seperti Jalan Braga. Selain di rumah makan Roemah Nenek Resto Cafe, Klab Aleut juga menggelar diskusi informal di Potluck Coffee & Library hari Jumat pukul 18.20 WIB hingga pukul 20.40 WIB.

* Sejarah populer
Kemasan pengajaran sejarah yang dibarengi suasana santai dan terkadang seraya berjalan-jalan atau wisata menjadi daya tarik bagi kaum muda. Rupanya, konsep sederhana ini memberi dampak positif. Materi sejarah yang awalnya tampak berat menjadi mudah diserap oleh para pelajar. Cara seperti ini tentu saja berbeda dengan metode mengajar sejarah di sekolah dan universitas yang cenderung kurang menarik. rig ( )


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help