Seno Gumira Ajidarma Belajar Membaca Film
Ada pertanyaan menarik yang ditanyakan seorang mahasiswa, di dalam diskusi tentang film di ITB, baru-baru ini. Dia bertanya, mana yang lebih baik sebagai media pembelajaran: buku atau film?
Jawaban yang tak kalah menarik dilontarkan oleh Seno Gumira Ajidarma (49). Kata dia, bagi orang yang tidak bisa membaca film, tentu saja film tidak bisa dijadikan media pembelajaran.
"Sebagaimana halnya kalau kita mau belajar sastra, tentu hal mendasar yang harus kita pelajari adalah belajar membaca, mulai dari mengenal abjad, membuat kata, merangkai kalimat, dan seterusnya. Demikian juga dengan film. Unsur yang harus dipelajari di dalam film itu banyak, ada pergerakan kamera, ada angle, ada dialog antartokohnya, dan seterusnya," kata Seno.
Lebih lanjut sastrawan generasi baru Indonesia kelahiran Boston, AS, 19 Juni 1958 ini mengatakan, tidak adil jika kita dipaksa untuk membandingkan dua hal yang memiliki perbedaan secara mendasar. Ada orang yang lebih cocok belajar dengan membaca buku atau teks, tapi banyak juga yang lebih cocok belajar dengan membaca gambar atau simbol.
"Yang jadi persoalan, dalam sistem yang dominan sekarang orang yang cerdas karena menonton film tidak diakui kecerdasannya. Tapi, hidup ini merupakan pilihan, dan setiap orang hendaknya tahu apa yang harus menjadi bayarannya. Jika Anda sekolah dan memiliki ijazah, tentu Anda bisa mencantumkannya di dalam CV untuk melamar kerja. Untuk sekarang, rasanya tidak mungkin Anda akan mencantumkan di CV bahwa Anda cerdas karena telah menonton sepuluh ribu film," kata Seno. (Zaky/"PR").***